SKI 2026 Hadirkan Dua Komisi Baru dan Perkuat Sinergi Lintas Instansi dalam Pemadanan Istilah

Jakarta, Sundapost.co.id — Dalam upaya pengembangan dan pemerkayaan bahasa Indonesia melalui pemadanan istilah asing di berbagai bidang ilmu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), menyelenggarakan kegiatan Sidang Komisi Istilah (SKI) Tahun 2026.
SKI merupakan forum ilmiah yang mempertemukan pakar lintas disiplin untuk membahas dan menyepakati padanan istilah. Selain mengindonesiakan istilah asing, kegiatan ini juga bertujuan menyelaraskan penggunaan istilah agar konsisten dan mudah dipahami.
Selain istilah ilmiah, SKI juga mengkaji istilah populer yang berkembang di media. Upaya ini diharapkan meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia dalam berbagai ranah komunikasi. Hasil SKI akan menjadi bahan dasar penyusunan kamus bidang ilmu dan glosarium. Produk tersebut dapat dimanfaatkan oleh akademisi, profesional, dan masyarakat umum.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan apresiasi kepada para pakar yang telah bersedia mengawal SKI sebagai bentuk pengabdian berkelanjutan bagi pengembangan bahasa Indonesia. Ia menyadari bahwa kontribusi para ahli merupakan bagian penting dari upaya kolektif yang berkelanjutan sebagai wujud partisipasi semesta dalam penguatan bahasa Indonesia.
“Partisipasi semesta dalam penguatan bahasa Indonesia sangat penting. Perlunya sosialisasi yang terus menerus dan melibatkan semua pihak agar istilah yang dihasilkan dapat digunakan secara masif dan menjadi kebanggaan bersama. Saya berpesan agar pengunaan istilah yang telah diciptakan tidak kalah oleh penggunaan istilah asing,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Hafidz menyoroti capaian strategis bahasa Indonesia di tingkat global, termasuk pengakuannya sebagai bahasa resmi dalam sidang umum UNESCO dan penggunaannya di Vatikan. Menurutnya, capaian ini menjadi modal penting dalam mendorong bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional menuju 2045.
Respons Perkembangan Kebutuhan Istilah di Bidang Strategis, SKI 2026 Hadirkan Dua Komisi Baru
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyoroti tantangan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menuntut kesiapan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu. Pemadanan istilah asing menjadi krusial agar tidak ada lagi alasan penggunaan istilah asing. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan tidak berhenti pada produksi istilah. Penggunaan secara luas di masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan.
Menjawab tantangan situasi saat ini, pelaksanaan SKI 2026 menghadirkan tujuh komisi bidang ilmu yang meliputi Komisi Pertimbangan Istilah, Bidang Geologi, Bidang Astronomi, Bidang Hukum, Bidang Kesehatan Masyarakat, Bidang Teknik Geofisika, serta Bidang Transportasi dan Logistik. Setiap komisi bekerja secara intensif untuk menginventarisasi dan membahas istilah sesuai bidangnya. Kolaborasi pakar dan ahli bahasa menjadi kunci dalam menghasilkan padanan yang tepat secara konsep dan kaidah.
Tiap komisi ditargetkan membahas sekitar 400 istilah untuk dipadankan. Istilah tersebut dilengkapi konteks penggunaan, definisi, dan sumber rujukan akademis. Proses kerja meliputi penyusunan taksonomi, inventarisasi, pembahasan konsep, hingga penentuan padanan. Selain itu, dilakukan penyelarasan antarbidang untuk menghindari perbedaan padanan dari sumber istilah yang sama.
Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia, menyampaikan bahwa sidang ini melibatkan 53 peserta yang terbagi dalam tujuh komisi. Komposisi tersebut dirancang untuk memastikan pembahasan berjalan efektif dan mendalam. Ia juga mengungkapkan adanya dua komisi baru, yaitu Komisi Istilah Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Komisi Istilah Bidang Ilmu Teknik Geofisika. Hal ini menunjukkan respons terhadap perkembangan kebutuhan istilah di bidang-bidang strategis.
Dora menambahkan bahwa cakupan bidang mencerminkan luasnya kebutuhan pemadanan istilah dalam berbagai sektor ilmu. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas instansi dalam kegiatan ini. SKI melibatkan pakar dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga, seperti ITB, UI, Unpad, Universitas Pertamina, serta BMKG. Sementara narasumber bahasa berasal dari Pusat Pegembangan dan Pelindungan Bahasa serta Balai Bahasa. (Red)
